Reptil sebagai Sarana Edukasi Konservasi Satwa: Upaya Membangun Kesadaran Sosial di SMA IT FADHILAH Provinsi Riau
DOI:
https://doi.org/10.59837/jpmba.v3i5.2658Keywords:
edukasi, satwa reptil, konservasi, siswa SMA/SMKAbstract
Konservasi merupakan upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup. Pelestarian satwa liar merupakan hal yang penting untuk dilakukan, mengingat banyak satwa liar yang terancam punah. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi satwa liar adalah melalui edukasi. Reptil merupakan salah satu kelompok satwa liar yang keberadaannya terancam punah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perburuan liar, perdagangan ilegal, dan hilangnya habitat. Edukasi tentang satwa reptil merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi satwa liar. Kegiatan ini akan dilaksanakan di SMA IT FADHILAH Kota Pekanbaru, Riau. Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam bentuk seminar dan workshop. Seminar akan membahas tentang pentingnya konservasi satwa liar, sedangkan workshop akan memberikan keterampilan kepada siswa tentang cara merawat dan memelihara satwa reptil. Berdasarkan hasil rekapitulasi penilaian sebelum dan sesudah penyuluhan mengenai satwa liar dan reptil, yang sangat positif dari analisis hasil penilaian dari indikator peningkatan pengetahuan secara umum, pemahaman tentang ular, dan keterampilan praktis. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya siswa SMA/SMK sederajat, tentang pentingnya konservasi satwa liar. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat dalam upaya konservasi satwa liar.
Downloads
References
Butarbutar, R., & Soemarno, S. (2013). Environmental effects of ecotourism in Indonesia. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 1(3), 97-107.
Indonesia, P. R., & Indonesia, P. R. (1990). Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang: Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Jakarta: Dephut.
Jovičić, D., & Dragin, A. (2008). The assessment of carrying capacity: A crucial tool for managing tourism effects in tourist destinations. Turizam, (12), 4-11.
Kyerematen, R., Owusu, E. H., Acquah-Lamptey, D., Anderson, R. S., & Ntiamoa-Baidu, Y. (2014). Species composition and diversity of insects of the Kogyae Strict Nature Reserve in Ghana. Open Journal of Ecology, 4(17), 1061-1079.
Lagmoj, M. A., Shokry, A. K., Hashemi, S. A., & Zadegan, H. K. (2013). Defining the ecotourism carrying capacity of langeroud city (case study: Khorma Forest). Greener Journal of Social Sciences, 3(9), 447-457.
Rosalino, L. M., & Grilo, C. (2011). What drives visitors to Protected Areas in Portugal: accessibilities, human pressure or natural resources. Journal of Tourism and Sustainability, 1(1), 3-11.
Siburian, R. (2006). Pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser Bagian Bukit Lawang Berbasis Ekowisata. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 8(1), 67-90.
Soemarno, S., & Butarbutar, R. (2013). Environmental Effects of Ecotourism in Indonesia. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 1(3), 29331.
Sukma, D., & Sunarminto, T. (2016). Pengembangan Manajemen Kawasan Ekowisata Budaya Candi Muara Takus Kampar Riau. Media Konservasi, 21(2), 159-167.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Dodi Sukma R.A, Marta Dinata, Hadinoto Hadinoto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.












