IbM Pemanfaatan Kulit Nenas Pada Proses Perendaman Kedelai Terhadap Lama Proses Pengasaman Dalam Pembuatan Tempe Di UMKM Bamboe Daun Pekanbaru
DOI:
https://doi.org/10.59837/jpmba.v1i11.631Keywords:
tempe, protein, kulit nenas, asam, kedelaiAbstract
Proses pembuatan tempe membutuhkan waktu yang lama sekitar 72 jam. Proses awal dimulai dari perendaman biji kedelai dan sampai akhir melalui proses fermentasi. Dimana pada proses perendaman biasanya membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Lamanya proses perendaman ini menjadi kendala dalam proses pembuatan tempe. Adapun tujuan dari perendaman adalah untuk membuat biji kedelai memiliki kondisi asam. Pada biji kedelai dengan kondisi asam inilah fermentasi kedelai bisa terjadi sehingga protein kedelai akan meningkat pada tempe. Tempe memiliki kadar protein yang tinggi sehingga tempe menjadi makanan yang bergizi dan sehat. Dengan adanya pemanfaatan kulit nenas pada perendaman biji kedelai mampu mempercepat proses pembentukan kondisi asam pada biji kedelai dengan lama waktu perendaman 6 jam diperoleh pH = 5. Dengan menambahkan air rendaman ini mampu memberikan peningkatan daya simpan tempe, sehingga nantinya akan mempengaruhi omset dari penjualan mitra. Permasalahan yang ada sebelumnya karena lamanya proses perendaman kedelai, dapat diatasi dengan menambahkan air perasan kulit nenas, sehingga lama proses perendaman menjadi 6 jam.
Downloads
References
Fitriah, A. H., Kristianto, Y., & Pudjirahaju, A. (2017). Kreativitas Pengembangan Formula Tempe Generasi Dua Di Kota Malang. Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia, 3(2), 96-103.
Jeleń, H., Majcher, M., Ginja, A., & Kuligowski, M. (2013). Determination of compounds responsible for tempeh aroma. Food Chemistry, 141(1), 459-465.
Lumowa, S. V., & Nurani, I. (2014). Pengaruh perendaman biji kedelai (Glycine max, L. Merr) dalam media perasan kulit nanas (Ananas comosus (Linn.) Merrill) terhadap kadar protein pada pembuatan tempe. Jurnal EduBio Tropika, 2(2).
Nout, M. R., & Kiers, J. (2005). Tempe fermentation, innovation and functionality: update into the third millenium. Journal of applied microbiology, 98(4), 789-805.
Rini, A. R. S., Supartono, S., & Wijayati, N. (2017). Hand Sanitizer Ekstrak Kulit Nanas sebagai Antibakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Indonesian Journal of Chemical Science, 6(1), 61-66.
Rofita, D. (2020). Pemanfaatan Rempah-Rempah Untuk Bahan Suplemen Dalam Pembuatan Tempe. CIWAL (Jurnal Ilmu Pertanian dan Lingkungan), 1(1), 18-22.
Salim, R., & Rahayu, I. S. (2017). Analisis Kadar Protein Tempe Kemasan Plastik dan Daun Pisang. JAFP (Jurnal Akademi Farmasi Prayoga), 2(1), 8-14.
Wolkers–Rooijackers, J. C., Endika, M. F., & Smid, E. J. (2018). Enhancing vitamin B12 in lupin tempeh by in situ fortification. Lwt, 96, 513-518.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Yelmiza Yelmiza, Anna Anggraini, Fikratul Ihsan, Hazra Yuvendius

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.













